Apakah PKI/Komunis Masih Merupakan Bahaya Laten di Indonesia?

bubarkan-pki

PENGANTAR:
Seolah tak mudah lekang dalam ingatan, gerakan G30S/PKI silam ternyata telah menorehkan guratan sejarah yang begitu kelam dalam perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Tulisan ini terinsfirasi setelah membaca sebuah artikel karya Bapak H. Mohamad Tanwir, di Majalah Suara Daerah Edisi 516 Tahun 2015, yang pada awalnya saya berniat memuatnya dengan mengetik ulang dalam Blog ini tepat pada 30 September 2015 lalu. Namun, karena sejumlah hal, akhirnya baru saat ini terwujud.
Tidak ada maksud dan motiv apapun dari penulisan ulang artikel ini. Hanya sekedar sebagai bahan renungan terutama kepada generasi muda yang hanya mengetahui tentang peristiwa gerakan G30S/PKI tersebut berdasarkan sejarah yang dipelajari di bangku pendidikan. Semoga dengan hadirnya tulisan ini dapat memberikan manfaat dalam menambah wawasan kita. * * *

Bahaya laten berarti bahaya yang tersembunyi namun memiliki potensi untuk muncul kembali. Peristiwa pengkhianatan Gerakan 30 September (G30S/PKI) yang melakukan kudeta melalui Dewan Rovolusi yang diawali dengan pembunuhan 6 jenderal dan seorang perwira pertama yang sudah 50 tahun lebih berlalu, para tokoh utamanya tak sedikit yang dieksekusi mati, sisanya dikatagorikan golongan A, B dan C dimasukkan ke Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) di Pulau Buru, sebagian besar berangsur sudah banyak yang kembali ke masyarakat, walaupun ada juga yang tetap tinggal karena “betah” di sana menyatu dengan tanah yang digarapnya mulai dengan tangan telanjang sampai dengan alat seadanya saat masih berupa hutan liar. Atau sebagian lain ada yang menjadi eksil di negeri orang lalu mati karena penyakit atau usia tua seperti penyair Utuy Tatang Sontani pada tahun 1979, yang dikuburkan di pemakaman umum Moskow, juga penyair Agam Wispi yang menghembuskan nafas terakhirnya di sebuah verpleghuis (rumah jompo) di Amsterdam Belanda pada 1 Januari 2003.

Utuy dan Agam merupakan dua sosok dari seribu lima ratusan eksil yang terdampar di Eropa, RRC atau Kuba. Eksil-eksil lainnya dengan beragam profesi mulai dari seniman, pekerja seni, mahasiswa, intelektual sampai kepada pejabat negara seperti Ali Chanafiah mantan Duta Besar RI di Srilanka yang sekarang menetap bersama isteri dan anak cucunya di Ragsved, 15 km selatan Stockholm, Swedia. Merekan hanya merupakan serpihan kecil yang awalnya berasal dari sebuah organisasi komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan RRC yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan jumlah anggota 3 juta orang, jumlah yang membuat Aidit Jumawa dengan mengatakan bahwa, “Satu dari tiga orang Indonesia sekurang-kurangnya simpatisan partai.”

Saat ini usia termuda orang-orang eks PKI yang masih hidup adalah 70 tahunan. Bukan lagi usia yang mampu melakukan gerakan di bawah tanah. Usia yang tak akan bisa lagi melakukan ofensif revolusioner seperti zamannya dulu melakukan ganyang-ganyangan, ya ganyang Malaysia, ganyang setan desa, ganyang setan kota, ganyang kapitalis birokrat, ganyang nekolim dan macam-macam jargon revolusioner lainnya. Otot-otot rahang mereka tak akan mampu lagi mendorong teriakan yel-yel yang harus dikeluarkan dari kerongkongannya, dan kerentaan hampir semua anggota badannya tak akan bisa lagi menampilkan kegarangan walaupun dibungkus dengan seragam hitam-hitam dan ikat kepala merah bergambar palu arit seperti dulu.

Di sisi lain, di negara asalnya di mana komunisme itu lahir, maju dan berkembang yaitu Uni Sovyet mengawali tahun 90-an rontok berkeping-keping. Komunisme menjadi ideologi bangkrut yang tak akan pernah bangkit lagi. Uni Sovyet bubar menjadi negara Rusia, Jerman Timur bergabung dengan Jerman Barat diawali simbolisme perobohan tembok yang membelah kota Berlin lalu menjadi satu Jerman, dan berikutnya efek domino pun berlaku, 3 negara di wilayah Baltik, 3 negara di Eropa Timur, 3 negara di Kaukasus Selatan dan 5 negara di Asia Tengah menyatakan merdeka dan lepas dari Blok Sovyet.

Dan RRC? Kalaupun masih memakai komunis sebagai label dan ideologi resmi negara, namun kebijakan pemerintahnya kini lebih kapitalis dari negara kapitalis yang dulu selalu dikecamnya. Hebatnya lagi, sekali banting setir kurang dalam empat tahun antara 2002 dan 2004 GDP-nya melonjak naik dari 4,4% menjadi 5,5%. Ini berarti secara fantastis mampu menyalip Inggris dan Perancis ke peringkat 4 kekuatan ekonomi dunia dilihat dari sisi GDP. Kalaupun Mao pernah mengatakan bahwa, “Kekuasaan politik berasal dari moncong senapan”. Derajat kebahayaan yang ditimbulkan dari kader yang perutnya lapar adalah jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kader yang perutnya kenyang, dan komunis Cina saat ini adalah komunis yang kekenyangan.

Dengan demikian, apakah bahaya laten PKI/Komunisme dilihat dari faktor internal dan eksternal di atas secara potensial masih ada? Dihitung dari anggota eks PKI yang sudah gaek dan renta, dari organisasi yang secara fisik tulang belulangnya sudah lenyap tak berbekas bersama tanah yang menguburnya, atau juga dilihat dari negara asal ideologinya yang sudah bangkrut atau berubah menjadi komutalis, bermulut komunis namun berperut kapitalis. Maka jawabannya adalah jangan terpaku pada penampilan, karena:

(1)  Belajar dari sejarah pertama, setelah kegagalan pemberontakan tahun 1926 PKI cerai berai, lebih dari 13.000 anggotanya ditangkap dan diasingkan, 823 orang dibuang ke Boven Digoel, pimpinannya Alimin dan Tan Malaka ditangkap di Geylang, Singapura, setelah itu secara fisik PKI menghilang dari bumi Indonesia (Hindia-Belanda).

(2)  Belajar dari sejarah kedua, Pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948 yang diawali dengan aksi Musso tokoh PKI yang baru pulang dari Moskow, mendirikan Negara Republik Sovyet Indonesia, mengambil alih pemerintahan di Madiun, membunuh RM. Soerjo Gubernur Jawa Timur saat itu dan semua pengawalnya, melakukan pembantaian terhadap pegawai sipil pemerintah dan militer serta seluruh tokoh agama dan masyarakat. Pemberontakan ini ditumpas setelah dikepung oleh Pasukan Siliwangi pimpinan Kolonel Soengkono dan Pasukan Divisi II Kolonel Gatot Soebroto, dan sang pimpinan Musso tertembak mati di Dungus lalu Amir Sjarifudin dieksekusi di Ngalihan, menyusul kemudian seluruh pasukannya dilumpuhkan atau ditangkap. Setelah itu perpolitikan di jagat raya Indonesia sepi dari PKI dengan semua aktivitasnya.

(3)  Belajar dari sejarah ketiga, tanggal 29 September 1955 Pemilu pertama setelah 10 tahun kemerdekaan, disebut sebagai pemilu yang paling ideal dan demokratis yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Idealitasnya diukur dari kebebasan dan pluralitas kontestan pemilu, netralitas birokrasi dan militer, tidak ada kerusuhan dan bentrokan massa, terwakilinya semua partai dalam badan penyelenggara pemilu serta antusiasme pemilih yang tinggi. PKI yang tidak dibubarkan setelah pemberontakan di Madiun kemudian mendaftarkan diri sebagai salah satu kontestan dan keluar sebagai pemenang keempat setelah PNI di urutan pertama, Masyumi di urutan kedua dan NU di urutan ketiga. Semua terhenyak, peran Aidit dalam mengonsolidasikan sisa-sisa anggota PKI yang lintang pukang setelah Peristiwa Madiun ternyata membuahkan hasil yang tak diduga bahkan untuk PKI sendiri. Semua pihak di luar PKI dengan harap-harap cemas hanya bisa berprasangka baik saja bahwa jalan politik melalui parlementer akan menjadikan partai penghalal segala cara ini “jinak” dan tak akan lagi menjadikan kekerasan sebagai jalan perjuangannya.

(4)  Belajar belajar dari sejarah keempat, tanggal 30 September 1965 sebagaimana diketahui, sebelumnya PKI yang diharapkan menjadi anak manis di jalur konstitusional setelah menjadi pemenang di urutan keempat dalam pemilu 1955, sepuluh tahun kemudian menunjukkan watak aslinya dengan melakukan kudeta yang diawali dengan pembunuhan enam orang jenderal dan seorang perwira pertama yang terjadi di ibukota negara Republik Indonesia Jakarta. Kemudian di Daerah Istimewa Yogyakarta esok harinya yaitu 1 Oktober 1965 Kolonel Katamso Danrem 072 Pamungkas dan Lektol Soegijono yang menjabat sebagai Kasremnya diculik dan dibawa ke Batalion L, selanjutnya dibunuh setelah kepalanya dipukul terlebih dahulu dengan kunci mortir untuk kemudian dikubur hidup-hidup dalam satu lubang di suatu tempat di daerah Kentungan Kabupaten DIY. Berikutnya menyusul pemberontakan PKI yang mengonsentrasikan kekuatannya di tempat-tempat lain seperti di puncak Gunung Merapi, Merbabu yang dipimpin oleh Lektol Usman, Mayor Samadi, Kapten Sukarno dan puluhan orang PKI yang menjadi pasukannya. Atau juga gerombolan lain yang dipimpin oleh Kolonel (Inf) Suherman eks Asisten Intel Kodam VII/Diponegoro yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Komandan G30S Jawa Tengah didampingi oleh Kolonel Marjono dan Mayor Sukirno dari Kodam yang sama adalah merupakan rentetan skenario besar PKI bila terjadi kegagalan di tingkat pusat. Semua perlawanan ini dapat ditumpas tuntas dengan pengejaran sampai ke pelosok-pelosok yang paling sulit dijangkau di seputar Gunung Merapi dan Merbabu yang terkenal dengan MMC (Merapi Merbabu Complex). Selain penculikan dan tindakan pemberontakan PKI di tempat-tempat lain seperti penculikan tokoh-tokoh agama dan nasional sampai dengan akhir Oktober 1965 di Boyolali, Klaten, Solo, Jatinom dan Manisrenggo yang terakhir diberitakan dari 62 orang yang diculik tak pernah ditemukan lagi. Kiranya daftar ini akan sangat panjang bila ditambah dengan pembantaian di Banyuwangi, Sumatera Utara dan tempat-tempat lainnya di Indonesia.

Pertanyaannya, apakah kita tak akan pernah belajar dari sejarah? Merunut kembali ke belakang ternyata semua jalan teror yang dilakukan oleh PKI adalah memang berdasarkan ideologi komunis sebagaimana yang digariskan oleh kedua orang tokohnya yaitu Karl Mark dan Friedrich Engels yang dituangkan dalam buku Manivesto Komunis di tahun 1848. Tujuan ideologinya sangat jelas dan gamblang, yaitu merebut kekuasaan dengan kekerasan dan menggulingkan kekuatan sosial yang ada. Dua tujuan teoritik ini dijabarkan dalam delapan belas butir pedoman praktisnya yang diuraikan oleh Zagladin sebagai berikut: berdusta, memutarbalikan fakta, memalsukan dokumen, memfitnah, memeras, menipu, menghasut, menyuap, mengintimidasi, bersikap keras, membenci, mencaci-maki, menyiksa, memperkosa, merusak, menyabotase, membumi hanguskan, serta membunuh/membantai.

monumen-pahlawan-revolusi

Sekedar catatan, akhir tahun 1959 Presiden Soekarno menunjuk tiga menteri sebagai panitia retooling untuk menentukan keabsahan partai politik. Mereka adalah Nasution (Menteri Keamanan Nasional/KSAD), Ipik Gandamana (Mendagri) dan Roeslan Abdulgani (Menteri Pembina Jiwa Revolusi). Nasution yakin bahwa PKI tak akan bisa lolos karena tidak mungkin mempertautkan Marxisme dengan Pancasila khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain itu, bagaimana PKI bisa setia kepada tanah airnya, sedangkan mereka terikat kepada komunisme internasional (komintern)?

Aidit menjawab, “Pancasila dan juga sila Ketuhanan diterima oleh PKI, oleh karena merupakan kenyataan objektif dalam masyarakat Indonesia. Mengenai Internasionalismenya PKI apa bedanya dengan semua agama yang sifatnya juga internasional?” Jawaban diplomatis dan mengambang ini menjadikan panitia retooling tak dapat mencapai kata sepakat, apakah PKI akan diberi izin atau tidak yang menyebabkan panitia akhirnya menyerahkan masalahnya kepada Presiden. Dan ternyata Bung Karno memberikan konsesi, “PKI boleh menjalankan aktivitasnya sebagai partai politik dengan memperbaiki Anggaran Dasar serta metode perjuangannya sehingga tidak bertentangan dengan Pancasila.” Konsesi tersebut langsung disetujui oleh Aidit dalam pernyataan meski dalam pelaksanaan tidak pernah dia lakukan.
Selajutnya dalam kesempatan lain, di hadapan massanya Aidit menyatakan bahwa, “Pancasila adalah alat pemersatu bangsa, bila bangsa sudah bersatu maka Pancasila tidak diperlukan lagi.”

Itulah watak asli PKI/Komunis, dusta bukan masalah sama sekali dan itu hanya salah satu dari delapan belas butir pedoman Komunis yang harus dihayati dan dipraktikkan oleh setiap kader partai tanpa reserve. Selanjutnya, sebagai tambahan tentang sepak terjang komunisme internasional berdasarkan catatan sejarah apabila diakumulasi total semua korban yang disebabkan oleh teror Komunis di 76 negara sejak tahun 1917-1991 tak kurang dari 120 juta jiwa melayang sia-sia.

Dengan demikian, yakinlah kita bahwa tragedi tak akan berulang bila kita memberi PKI/Komunis ruang kembali? Bung Karno sendiri yang mengatakan, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, dan hanya keledailah yang akan terperosok dua kali ke dalam lobang yang sama. Berikutnya entah keledai jenis apa yang patut kita berikan sebagai julukan untuk diri kita sendiri bila kembali kita harus terperosok ke lubang itu-itu lagi lebih dari tiga kali. ***

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s