Kebiasaan Keliru Saat Kegiatan Kemah

Setelah beberapa kali ditugaskan sebagai Pembina mendampingi kegiatan perkemahan Lomba Tingkat (LT), ada fenomena unik dan cukup menggelitik.

Diantara sekian hal yang disiapkan dan dianjurkan kepada anak didik kita adalah persiapan bekal uang saku untuk selama kegiatan LT mulai berangkat hingga kembali ke pangkalan sekolah asal.
Adapun di sela kepadatan kegiatan, antar-pembina dari berbeda pangkalan bertemu sekedar untuk Say Hallo, sillaturahmi, diskusi edukasi hingga bercengkrama ringan seputar kabar keluarga. Tidak jarang pula diselingi dengan canda dan gelak tawa serta nuansa haru.

Ketika tengah asyik berbincang, terkadang ada sejumlah anak didik yang datang menghampiri kami. Yang dituju adalah salah satu rekan pembina di antara kami. Setelah kami tanya maksud dan tujuannya, ternyata mereka kehabisan bekal uang saku, dan ingin meminta cadangan yang telah dititipkan orangtua mereka saat sebelumnya.
Jujur, bagi saya pribadi tidak pernah menerima titipan uang cadangan bekal dari orangtua siswa. Kalaupun ada yang bermaksud menitip, selalu saya arahkan agar dititipkannya kepada rekan guru atau pembina yang lain.

Ada sejumlah alasan mengapa para orangtua melakukan hal ini, yaitu menitipkan cadangan bekal uang saku untuk anak mereka. Antara lain:

1) Khawatir jika anak mereka saat di lokasi perkemahan mengalami kehilangan bekal uang saku. Entah itu sebagian ataupun semuanya. Intinya, ini adalah langkah antisipasi dari para orangtua demi ketenangan anak mereka selama mengikuti kegiatan.

2) Kekhawatiran para orangtua jika anak mereka nantinya kekurangan bekal uang saku. Karena mereka beranggapan, ada kemungkinan perbedaan pola jajan anak jika dibandingkan pada hari-hari biasa dengan saat kegiatan LT.

Semua alasan, tujuan dan kekhawatiran para orangtua siswa tadi memang benar adanya. Yang mencerminkan perwujudan rasa cinta dan sayang kepada buah hati mereka.

Tetapi, sebelum pemberangkatan, saya bersama rekan pembina lain selalu menanyai tiap siswa, berapa bekal uang saku yang mereka bawa?
Jawabannya adalah beragam. Namun, tanpa perlu menyebutkan Nominal, secara sederhana, dari varian jumlah bekal uang saku mereka dapat dikatagorikan menjadi tiga, yaitu:
Besar, Sedang dan Standar Minimal.
Dikatagorikan Besar, jika jumlah uang saku mereka jauh melampaui di atas rata-rata dari teman-temannya.
Dikatagorikan Sedang, jika jumlah bekal uang saku mereka berada di kisaran rata-rata dari teman-temannya. Dan katagori Biasa jika jumlahnya berada di bawah rata-rata dari teman-temannya.

Terlepas dari itu semua, sebagaimana tadi, saya tidak pernah mau menerima titipan cadangan bekal uang saku siswa. Mengapa?
Karena sejumlah alasan berikut ini:

1) Pramuka melatih anak untuk Hemat dan Cermat.

Kita ingat, di antara bunyi Dasa Darma Pramuka adalah “Hemat, cermat dan bersahaja.”

Artinya, untuk apa anak ikut Pramuka jika mereka tidak dibiasakan tertib menjaga barang, harta benda mereka? Malah dititipkan kepada kita selaku Pembina.

Kemudian, Hemat dan Bersahaja.

Untuk apa anak didik kita dibina Kepramukaan jika mereka tidak dibiasakan untuk mampu mengatur penggunaan bekal uang saku mereka sendiri? Biarlah mereka belajar mengontrol diri.
Tetapi, selaku Pembina kita tidak pernah bosan untuk mengingatkan anak didik kita atas hal-hal tadi.
Selain dari itu, secara periodik kita selalu menanyai anak untuk mengecek berapa sisa bekal uang saku yang mereka punya? Tujuannya sekedar untuk memantau saja.

2) Sebagai Pembina tidak perlu memposisikan diri kepada anak didik kita layaknya para orangtua mereka di rumah. Biarlah mereka menjalani kegiatan dengan belajar menerapkan sistem kepemimpinan dalam regu, kerjasama dan koordinasi, kemandirian serta peduli terhadap sesama.

Atas semua pemaparan tadi, Saya menawarkan sejumlah alternatif yang barangkali bisa digunakan, yaitu:

1) Kita selaku Pembina silakan menerima titipan cadangan bekal uang saku dari para orangtua siswa sebelum pemberangkatan.
Dengan catatan, titipannya itu tidak diberitahukan kepada anaknya. Sehingga, anak akan lebih merasa untuk lebih hati-hati dalam memegang dan menggunakan bekal uang sakunya.

2) Jika terlanjur ada anak yang kehabisan bekal uang saku, entah disebabkan hilang atau lainnya.
Maka, kita selaku Pembina, tidak serta merta langsung memberikan cadangan uang saku yang telah dititipkan orangtuanya. Tetapi, coba kumpulkan dulu anggota regunya. Tanyai berapa sisa jumlah uang saku dimiliki masing-masing anak. Jika ada di antara temannya yang kita anggap masih memiliki sisa bekal uang saku dalam jumlah cukup besar di atas rata-rata temannya, kita tanya:
barangkali ada yang mau menolong untuk meminjamkan dulu sebagian bekal uang jajannya bagi teman kalian yang kekurangan? Nanti boleh dibayar penggantinya kalau sudah pulang ke rumah. Silakan!

Maksudnya, adalah untuk menanamkan rasa toleransi anak terhadap temannya yang mengalami kesusahan.

Adapun titipan cadangan bekal uang saku, kita serahkan kepada anak saat pulang.
Artinya, Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.

 

-Acep-

Advertisements

One thought on “Kebiasaan Keliru Saat Kegiatan Kemah

  1. Ah jadi inget waktu dulu, dengan uang jajan seadanya kami seregu cari tukang sayur untuk lomba masak rimba.
    Gak akan pernah ada yang namanya mantan Pramuka. Karena sekali ikut Pramuka akan jadi Pramuka sampai mati.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s