Orangtua, Jauhkan Kebiasaan Buruk Ini dari Anak Agar Kelak Tidak Konsumtif!

Jajan membeli panganan ringan (cemilan), mainan atau lainnya adalah hal yang lekat dengan dunia anak. Ada kalanya, ketika anak melihat teman bermainnya memiliki atau tengah menyantap cemilan, ia merengek kepada orangtua atau pengasuhnya. Kalaupun ia takut jika nanti permintaannya tidak dipenuhi bahkan dimarahi orangtua, yang tentunya didasarkan atas sejumlah pertimbangan dan kondisi sang orangtua, akan menjadikan anak kecewa. Ya, itulah dunia anak!

Tetapi, kadang orangtua karena kondisi tertentu tidak bisa memenuhi keinginan jajan sang anak secara langsung. Maka, diantaranya, ada orangtua yang menyuruh sang anak dan “dilatih” untuk mengutang dulu kepada penjual, dan orangtua akan melunasi jajanannya tersebut kemudian.

Ingat! Menyuruh anak untuk mengutang, adalah hal fatal dan kebiasaan sangat buruk.
Mengapa?
Inilah berikut sejumlah alasannya:

1. Mendidik & menanamkan kepada anak terbiasa berani mengutang akan menjadikan anak berpola hidup boros, gampangan dan tidak berpikir panjang sebelum bertindak atau memilih sesuatu.

2. Sadar atau tidak, karena telah terlatih mengutang, suatu saat anak akan berani mengutang dengan modal berbohong mengatasnamakan suruhan dari orangtua atau siapa pun. Wah, ini sangat berbahaya!

Oleh karenanya, jika anak kita merengek ingin dibelikan jajanan atau apapun, sedangkan kondisi kita sedang tidak memungkinkan untuk memenuhinya secara langsung (seperti kita tengah sibuk kerja atau lainnya) maka berikut alternatifnya:

1. Mintalah anak untuk menjelaskan apa yang ingin dibelikannya itu? Adakah manfaat untuknya?

2. Simak dan tanggapi penjelasan dari anak. Jika ternyata anggapan anak tentang jajanan yang dimintanya ada hal yang keliru, berikanlah penjelasan sederhana yang sesuai dengan tingkat pemahamannya. Secara tidak langsung, cara ini akan menumbuhkan jalinan komunikasi yang intens antara anak dengan orangtua. Selain itu, melalui cara ini pula anak akan terlatih untuk berpikir kritis tiap kali kita mengajaknya berdialog mengenai jajanan yang dimintanya.

3. Mintalah anak untuk bersabar sejenak hingga kita menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu, atau ada waktu senggang di antara kesibukan kita. Utarakan dengan komunikasi yang baik tentunya. Secara tidak langsung, hal ini akan melatih anak untuk terbiasa menahan diri dan bersabar, serta menghargai peran oranglain. Tidak dibiasakan egois. Karena pada umumnya, anak yang selalu dituruti segala kemauannya, adalah tipe anak manja. Di mana, salah satu karakter anak manja adalah egois, minta selalu diutamakan, didahulukan.

4. Jika kondisi kita tengah kesulitan keuangan atau kebetulan tidak membawa uang, berikan penjelasan yang baik kepada anak, bukan malah sambil menghardiknya.
Ingat! Menghardik anak akan menjadikannya bermental ciut, penakut bahkan pendendam nantinya.
Jika kita dalam kondisi masalah keuangan, janganlah menyuruh si anak untuk mengutang. Tetapi, lakukanlah mengutang itu oleh kita sendiri sebagai orang dewasa, orangtuanya.

Sebagai contoh real, saat saya masih duduk di bangku SMA dan memiliki seorang teman yang berpola hidup sangat boros. Setelah ditelurusi, ternyata sejak kecil ia memang telah “dilatih” untuk berani mengutang oleh orangtuanya. Bahkan setelah ia duduk di bangku SMA pun dan tinggal di rumah kost, di mana setiap awal bulan ia pulang membawa bekalnya untuk sebulan ke depan, tetapi menjelang akhir bulan orangtuanya selalu datang berkunjung dan juga untuk membayar lunas utang-utang anaknya yang sebulan ke belakang. Walaupun telah sebelumnya ia dibekali penuh untuk tiap bulan yang bersangkutan, tapi ternyata bekal untuk sebulan tersebut hanya dapat ia atur untuk selama seminggu, paling lama. Dan untuk hari-hari berikutnya adalah dengan mengutang ke sana-sini, pinjam uang kiri-kanan.

Pernah saat orangtuanya berkunjung dan kebetulan saya bertemu dengannya. Lantas saya tanya, mengapa Ibu mesti ke sini hanya untuk bayar utang anak Ibu? Tidak bisakah dititipkan saja ke anak Ibu langsung saat tiap ia pulang. Biar Ibu tidak perlu repot-repot “ngojeg” ke sini.
Lantas, ia pun menjawab, bahwa pertamanya pernah uang untuk membayar utang-utang itu dititipkan langsung ke anaknya sendiri, untuk ia bayarkan. Tetapi kemudian diketahui bahwa semua uang yang dititipkannya tersebut tidak dibayarkan untuk melunasi utang, justeru malah ia pakai untuk jajan, jalan-jalan dan traktir bareng teman-teman nongkrongnya.
Wah, kaget saya mendengarnya!

Nah, demikian tulisan ini. Semoga bermanfaat dan memberi insfirasi.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya… *_*

Advertisements