Renungan: Suami Putuskan Ceraikan Istri Karena Orang Ketiga

Oleh: Acep Sopiyulloh

Dikisahkan ada sepasang suami-istri yang telah sepuluh tahun hidup berumah tangga.

Suatu ketika, sang suami berkata kepada istrinya, bahwa ia telah selingkuh dengan rekan kerjanya. Oleh karena itulah ia putuskan untuk bercerai dan memilih akan menikahi selingkuhannya.

Mendengar penuturan sang suami, betapa terkejutnya si istri. Bak geledek di siang bolong. Lalu, sejenak si istri termenung dan berpikir. Akhirnya, ia pun menyetujui akan putusan suami, namun dengan syarat selama sebulan terakhir ini ia meminta agar suami menggendongnya dari kamar tidur ke teras depan rumahnya. Setiap pagi.

Pagi pertama, saat akan menggendong, suami merasakan tubuhnya kaku.

Pagi ke dua, saat menggendong, sang istri memeluk kepada suami. Para tetangga yang melihat pun merasa aneh akan kejadian tersebut.

Pagi ke tiga, saat digendong, sang istri memeluk leher suami dan berbisik agar jangan sampai (rencana) perceraian mereka tersebut diketahui oleh anak dan para tetangga mereka.

Pagi ke 4, saat menggendong, suami dapat mencium aroma tubuh sang istri dan melihat akan rambut istrinya yang kini telah beruban. Menandakan usia sang istri yang sudah tak muda lagi. Ia pun berpikir, bahwa inilah wanita yang telah rela mengorbankan 10 tahun masa hidupnya untuk setia mendampingi dirinya sebagai istri juga ibu bagi anaknya.

Hingga, di pagi yang terakhir, saat suami menggendong, ia cium kening sang istri sambil meneteskan air mata, tanpa bicara sepatah kata pun seperti 29 hari sebelumnya.

Kemudian, berangkatlah sang suami ke tempat kerja. Sepulang bekerja, ia mampir ke rumah si selingkuhannya. Ia putuskan tak akan menceraikan istrinya.

Sebelum pulang ke rumah, sang suami mampir ke toko untuk membeli serangkai bunga indah untuk ia berikan kepada istri dengan sebuah kartu di amplop yang bertuliskan bahwa ia akan menggendongnya setiap pagi sampai maut menjelang, dan tak akan ada perceraian dalam rumah tangga mereka. Selamanya!

Tetapi, setibanya di rumah, ia mendapati tubuh istrinya telah terbujur kaku di atas tempat tidur dan tengah dipeluk serta ditangisi putri semata wayangnya yang masih kelas 4 SD.

Di tangan (jasad) sang istri, ia mendapati sepucuk surat yang masih didekap di dada sang istri. Lalu, dibukalah surat tersebut.

Dengan berlinang air mata, suami membaca surat itu. Dalam surat tersebut, sang istri berterima kasih atas 10 tahun kesempatan yang telah diberikan suami kepadanya. Juga ia memohon maaf karena ketidaksempurnaannya selama mendampingi menjadi istri. Ia titipkan putri anak semata wayang mereka agar ia jaga dengan baik. Dan, dikatakan pula bahwa selama ini sang istri tengah berjuang melawan kanker ganas yang diidapnya.

Ternyata, sang istri menyadari bahwa usianya tak akan lama lagi. Oleh karena itu, ia ingin menyelamatkan rumah tangganya. Ia menginginkan rumah tangganya utuh hingga menjelang akhir hidup bersama sang suami.

Namun, semua telah terlambat!
Sang istri kini telah pulang menghadap Sang Kuasa. Suami telah terlambat untuk menyadari dan menyelamatkan semua ini. Hanya penyesalan yang begitu besar dari sang suami sepanjang dalam hidupnya…

Kesimpulan:
Betapa sangat berartinya dalam setiap moment kebersamaan dan keintiman antara istri dan suami. Oleh karenanya, maknailah setiap moment kebersamaan tersebut!

Demikian semoga bermanfaat dan menginsfirasi.

Sumber:
Insvirasi NET Pagi dengan perubahan seperlunya.

Advertisements