Anggota DPRD Minta Dibukakan Gerbang, Tak Digubris oleh Petugas Piket

Sebelumnya, cerita ini saya tulis sekedar untuk bernostalgia ke masa 2005 silam. Tidak bermaksud memberikan kesan apa pun dan kepada pihak manapun dalam tulisan ini, murni hanya tulisan ringan semata.

Saat tengah mengikuti pembelajaran Tata Negara, waktu dulu saya masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Guru Tata Negara kami (Yth.: Bapak Drs. Solihin) menceritakan hal berikut:

“Minggu lalu ketika ia berada di Pos Piket Sekolah, ada anggota DPRD Kota Tasikmalaya yang bertandang ke sekolah kami (menemui Bapak Kepala Sekolah karena telah ada janji ketemu sebelumnya) dengan mobil dinasnya. Saat tiba di depan gerbang sekolah, pengemudi mobil tersebut membunyikan klakson beberapa kali sebagai tanda meminta untuk dibukakan gerbang atau lebih tepatnya lebih melebarkan gerbang yang memang telah terbuka tapi hanya sebagian saja. Lalu guru kami menolehnya dan melihat plat merah serta mengenali bahwa pengendara di mobil adalah anggota dewan yang terhomat. Tetapi, bukannya ia beranjak dari tempat duduk dan membukakan gerbang, ia malah terus asyik membaca surat kabar yang sedari tadi dipegangnya. (Kebetulan waktu itu sedang efektif jam KBM, jadi hanya dia yang berada di Pos Piket). Akhirnya, pengemudi mobil tersebut turun dan membukakan sendiri gerbangnya, yang tentunya dengan ekspresi dongkol karena merasa diacuhkan.

Tak lama kemudian, Bapak Kepala Sekolah (Drs. H. Dudung Abdurrahman, M.Pd.) menghampiri dan menyambut kedatangan sang tamu.

Lantas, sang tamu pun bertanya kepada Bapak Kepala Sekolah (diketahui kemudian dari penuturan beliau kepada guru kami),

Siapa guru yang di Pos Piket itu? Kok tidak mau membukakan pintu, malah acuh?!
Lalu dijawab, bahwa ia adalah Guru Tata Negara. Oh, pantesan! Ucap sang tamu kemudian.”

Saya pun bertanya kepada pak guru, apa alasan dia bersikap tadi itu?
Dengan tegas ia pun menjawab, bahwa anggota DPRD itu adalah “Pelayan” rakyat. Mereka digaji untuk MELAYANI, bukan minta DILAYANI rakyat!

Nah, demikian semoga menginsfirasi.

Penulis:
Acep Sopiyulloh

Advertisements